Perilaku Konsumen
Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat
didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat
dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk
didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan
kegiatan-kegiiatan tersebut. (Prof. Dr. Basu Swastha Dharmmesta, M.B.A &
Dr. T. Hani Handoko, M.B.A, 2008:10). Ada dua elemen penting dari arti perilaku
konsumen : (1) proses pengambilan keputusan, dan (2) kegiatan fisik, yang semua
itu melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, dan mempergunakan
barang-barang dan jasa-jasa ekonomis.
Pengertian perilaku konsumen ini
sering dikacaukan dengan pengertian perilaku pembeli (buyer behavior). Padahal
perilaku pembeli itu sendiri mengandung dua pengertian, yang pertama adalah
bila diterapkan pada perilaku konsumen lebih menunjukkan kegiatan-kegiatan
individu yang secara langsung terlihat dalam pertukaran uang (atau kekayaan
lain) dengan barang-barang dan jasa-jasa serta dalam proses pengambilan
keputusan yang menentukan kegiatan pertukaran itu. Pengertian kedua, mempunyai
arti yang lbih khusus, yaitu perilaku langganan (coustomer behavior), yang
sering digunakan sebagai sebutun yang labih inklusif dibandingkan perilaku
konsumen. Penerapan yang lebih inklusif ini tampak pada pembelian oleh
lembaga-lembaga, organisasi-organisasi industri, dan bermacam-macam tingkat
penjualan kembali oleh pedagang besar ataupun pedagang eceran. Perilaku
pembelian oleh organisasi-organisasi industri dan lembaga-lembaga lainnya dalam
beberapa aspek berbeda dengan perilaku pembelian individu, tetapi tidak
semuanya. Karena pembelian yang dilakukan juga ditentukan oleh
individu-individu yang memainkan peranannya dalam pekerjaannya diorganisasi atau
lembaga tersebut. (Prof. Dr. Basu Swastha Dharmmesta, M.B.A & Dr. T. Hani
Handoko, M.B.A, 2008:10).
Walupun Model-Model Perilaku Konsumen yang
mengambarkan proses pembelian konsumen akhir (ultimate consumer) dan pembeli
individual (indiviidual buyer) berlaku juga untuk pembelian oleh
organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga, tetapi titik berat penulisan ini
adalah konsumen akhir dan pembelian individual.
Jenis-Jenis Konsumen
Setiap manusia pasti berbeda, begitu pula dengan konsumen. Agar dapat
memahami konsumen maka harus mengerti dulu jenis-jenis konsumen itu sendiri.
Jenis-jenis konsumen adalah sebagai berikut:
a. Pelanggan/konsumen menurut UU Konsumen adalah setiap orang pemakai
barang dan atau jasa yang tersedia dimasyarakat baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga, orang lain maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk
diperdagangkan.
b. Konsumen
trend setter. Tipikal konsumen ini selalu suka akan sesuatu yang baru, dan dia
mendedikasikan dirinya untuk menjadi bagian dari gelombang pertama yang
memiliki atau memanfaatkan teknologi terbaru
c. Berikutnya adalah jenis konsumen yang mudah dipengaruhi, terutama
oleh konsumen tren setter, sehingga disebut sebagai follower atau pengikut.
Kelompok ini sangat signifikan, karena membentuk persentase terbesar, kelompok
ini disebut konsumen follower. ”Follower. Konsumen ini adalah orang-orang yang
terimbas efek dari konsumen trend setter.
d. Sedangkan
jenis konsumen yang terakhir (Value seeker), adalah mereka yang memiliki
pertimbangan dan pendirian sendiri. Kelompok ini jumlahnya lebih besar dari
kelompok pertama, sehingga patut pula diberi perhatian khusus. atau yang
disebut konsumen ”value seeker”. Jenis konsumen ini relatif sulit untuk
dipengaruhi, karena mereka lebih mendasarkan kebutuhan mereka terhadap
alasan-alasan yang rasional.
e. Konsumen pemula, Jenis konsumen
pemula cirinya adalah pelanggan yang datang banyak bertanya. Dan konsumen
pemula merupakan calon pelanggan dimasa yang akan datang.
f. Konsumen curiga, ada konsumen yang datang dengan rasa curiga bahwa
Anda menjual barang gelap dengan harga gelap dan untung Anda berlipat. Jadi dia
akan menawar di bawah harga kepantasan.
g. Konsumen pengadu domba, ada
jenis konsumen lain lagi, yaitu yang suka mengadu domba. Mungkin karena menganggap
anda adalah domba yang layak diadu-adu. Konsumen jenis ini suka mengatakan
bahwa harga di tempat lain lebih murah daripada barang yang Anda tawarkan.
h. Konsumen pengutil, Ada lagi jenis konsumen yang
suka mengutil. Dia sering bertanya apa saja, yang pada intinya bertujuan agar
Anda bingung dan linglung, dan pada akhirnya setelah konsumen tersebut pergi,
Anda mendapatkan ada barang yang hilang. Konsumen jenis ini tidak selalu kumal.
Kadang dan biasanya malah berpenampilan perlente.
i. Konsumen
yang loyal pada harga, Inilah tipikal konsumen pada umumnya. Loyalitasnya hanya
pada harga bukan pada Anda. Kalau harga kompetitor Anda lebih murah dia akan
lari ke sana.
j. Konsumen banyak uang, Ini yang kita cari. Uangnya banyak, tidak
cerewet, lagi penurut. Tapi hati-hati menanganinya. Bagi mereka biasanya mutu
nomor satu. Anda harus menyuguhkan hanya yang terbaik. Sekali kecewa, mereka
pindah ke pesaing.
k. Konsumen kumuh, sesungguhnya penampilan kumuh atau perlente tidak
pernah mengatakan apa-apa. Banyak konglomerat, purnawirawan atau bos-bos besar
keluar-masuk toko sengaja memakai kaos oblong dan celana pendek. Pasti bukan
untuk memperdaya kita, agar kita menjual murah, melainkan karena begitulah
memang kepribadian mereka yang sejati: sederhana, apa adanya. Ada pepatah
bilang: Don’t judge the book from the cover. Jangan menghakimi orang dari
penampilannya.
l. Pelanggan adalah orang/lembaga yang melakukan pembelian produk/jasa
kita secara berulang-ulang.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsume
Menurut Prof. Dr. Basu Swastha
Dharmmesta, M.B.A - Dr. T. Hani Handoko,
M.B.A, dalam manajemen pemasaran analisis perilaku konsumen (2008:10)
beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku
konsumen yaitu :
a.
Kebudayaan
Mempelajari perilaku konumen adalah
mempelajari perilaku manusia. Sehingga perilaku konsumen juga ditentukan oleh
kebudayaan, yang tercermin pada cara hidup, kebiasaan dan tradisi dalam
permintaan akan bermacam-macam barang barang dan jasa dipasar. Tidak adanya
hemogenitas dalam kebudayaan suatu daerah misal karena banyaknya kelompok
etnis, akan membentuk pasar dan perilaku konsumen yang berbeda-beda. Jelas ini
merupakan suatu masalah bagi pemesaran perusahaan. Reaksi yang diberikan oleh
bermacam-macam kelompok konsumen terhadap kegiatan pemasaran, dalam banyak hal
berbeda-beda, dan terutama berbeda antara orang dipedesaan dan dikota. Bahkan
dengan kemajuan zaman atau karena pengaruh budaya lain (kebudayaan barat).
Konsumen yang berasal dari kebudayaan yang sama dapat mempunyai pola perilaku
yang berbeda.
Perusahaan
dituntut untuk mengerti akan implikasi dari kebudayaan dimana perusahaan
beroperasi. Barang-barang atau produk, penentuan harga, promosi, pembungkusan,
warna, merek dan lambang-lambang, yang semuanya harus dipilih dan dirancang
secara teliti untuk menjadikan suatu barang dapat diiterima dalm kebudayaan
konsumennya. Hal penting, karena perilaku atau tindakan konsumen itu ditata,
dikendalikan, dan dimantapkan pola-polanya oleh berbagi sistem nilai dan norma
budaya yang seolah-olah berada diatasnya. Dalam proses ini kepribadian atau
watak masing-masing individu pasti juga mempunyai pengaruh.
b.
Kelas sosial
Pengertian kelas sosial dalam hal ini adalah
sama dengan istilah lapisan sosial, tanpa membedakan apakah dasar pembagian
kelas itu uang, tanah, kekuasaan atau dasar lainnya. Ukuran atau kriteria yang
biasanya dipakai untuk menggolong-golongkan anggota-anggota masyarakat kedalam
kelas-kelas tertentu adalah sebagai berikut :
(1) Kekayaan,
(2) Kekuasaan,
(3) Kehormatan, dan
(4) Ilmu pengetahuan.
Ukuran
tersebut bukannya bersifat terbatas, karena masih ada ukuran-ukuran lain yang
dapat digunakan. Akan tetapi ukuran-ukuran tersebut diatas yang sering menonjol
sebagai dasar timbulnya kelas-kelas sosial didalam masyarakat.
Masyarakat kita, pada pokoknya
dapat dikelompokkan kedalam tiga golongan, yaitu :
1. Golongan atas
Yang termasuk dalam golongan ini
antara lain : pengusaha-pengusaha kaya, pejabat-pejabat tinggi.
2. Golongan menengah
Yang termasuk dalam kelas ini antara
lain : karyawan instansi pemerintah, pengusaha menengah.
3. Golongan rendah
Yang termasuk dalam golongan ini
antara lain : buruh buruh-buruh pabrik, pegawai rendah, tukang ojek, dan
pedagang kecil.
Perilaku konsumen antara kelas
sosial yang satu akan sangat berbeda degan kelas lain, karena golongan sosial
ini menyangkut aspek-aspek sikapa yang berbedaa-beda. Oleh sebab itu pembagia
kelas sosial dapat digunakan sebagai variabel yang bebas (independent) untuk
mensegmentasikan pasar dan meramalkan tanggapan konsumen terhadap kegiatan
pemasaran perusahaan. Antara berbagai kelas sosial dapatlah diamati adanya
perbedaan-perbedaab cukup menyolok dalam hal membaca majalah, kegiatan-kegiatan
untuk mengisi waktu luang, selera makan, perhatian pada mode, kesediaan
menerima inovasi-inovasi baru, dan sebagainya.
c.
Kelompok sosial dan kelompok referensi
§ Bentuk-bentuk kelompok sosial
Bentuk
bentuk kelompok sosial dapat digolong-golongkan atas dasar berbagai kriteria.
Berikut ini bentuk-bentuk kelompok sosial yag terjadi didalam masyarakat :
a. Kelompok yang berhubungan langsung
(face of face group)
Yaitu
kelompok yang anggotanya saling kenal mengenal secara erat, seperti misalnya
keluarga, teman terdekat, tetangga, kawan sekerja dan sebagainya keanggotaannya
untuk sebagian besar dipengaruhi oleh jabatannya, tempat kediaman dan usia.
Kelompok ini mempunyai pengaruh langsung terhadap pendapat dan selera
seseorang. Bagi manajemen pemasaran ini berarti bahwa pemilihan produk atau
merek barang, misal : mobil, televisi, atau rokok sangat dipengaruhi
orang-orang lain dan tetangga dari kelom ini, sebagai lingkungan pergaulannya.
b. Keompok primer dan kelompok sekunder
primary groups and secondary groups)
Kelompok-kelompok
primer adalah kelompok-kelompok yang ditandai dengan ciri-ciri adanya saling
mengenal antara anggota-anggota serta kerjasama erat yang bersifat pribadi.
Termasuk dalam kelompok primer adalah keluarga, kelompok teman-teman dekat atau
kolega (teman sekerja), yang selalu melibatkan individu berinteraksi secara langsung terus menerus dengan anggota
lainnya. Sebagai hasil hubungan yang erat dan pribadi ini, adalah menyatunya
individu-individu dalam satu kelompok, sehingga tujuan kelompok sering menjadi
tujuan individu, perilaku kolompok akan membentuk perilaku individu. Jadi,
kelompok primer ini sangat memperngaruhi perilaku dan sikap individu yang
menjadi anggotanya.
Kelompok-kleompok
sekunder adalah kelompok-kelompk besar yang terdiri dari byanak orang, dan
hubungan diantara anggotanya tidak perlu saling mengenal secara pribadi, serta
tidak begitu langgeng. Pembatasan kelompok sekunder sering tidak jelas, seperti
kalau kita bandingkan antara sebuah partai dan keluarga. Suatu kelompok
sekunder akan tetap memiliki ciri kelompok primer, yaitu adanya tujuan yang sama dan derajat kelanggengan yang
tertentu. Dalam kenyataan antara kelompok primer dan sekunder tak adapat dipisah-pisahkan, dan saling
melengkapai serta saling mengisi.
c. Kelompok formal dan informal (formal
group and informal group)
Kelompok
formal adalah kelompok-kelompok yang mempunyai peraturan-peraturan yang tegas
dan sengaja diciptakan untuk menatur hubungan antar anggota-anggotanya.
Misalnya peraturan-peraturan untuk memilih pemimpin, iuran dan sebagainya.
Sebaliknya kelompok informal tidak mempunyai stuktur dan organisasi yang
tertentu. Kelompok-kelompok tersebut biasanya tebentuk karena
pertemuan-pertemuan yang berulang kali.
Suatu contoh adalah klub-klub olah raga, dan kelompok-kelompok lecil
lainnya.
§ Kelompok referensi
Kelompok referensi (reference group)
adalah kelompok sosisal yang menjadi ukuran seseorang (bukan anggota kelompok
tersebut) untuk membentuk kepribadian dan perilakunya. Dengan perkataan lain,
merupakan kelompok dalam mana orang ingin menjadi anggota, atau dengan mana
orang mengidentifikasikan dirinya. Misalnya seseoang yang ingi jadi mahasiswa,
akan tetapi gagal dalam testing masuk, berperilaku sebagai mahasiswa, walaupun
dia bukan mahasiswa. Contoh lainnya, banyak orang muda mengidentifikasikan
dirinya dengan pemain band terkenal, sehinga mereka meniru cara berpakaian,
potongan rambut dan gaya pemain band tersebut.
Kelompok referensi ini juga
mempengaruhi perilaku seseorang dalam pembeliannya, dan sering dijadikan
pedoman oleh konsumen dalam bertingkah laku. Anggota-anggota kelompok referensi
sering menjadi penyebab pengaruh dalam hal selera dan hobi. Oleh karena itu
konsumen selalu mengawasi kelompok tersebut baik perilaku fisik maupun
mentalnya. Termasuk kelompok referensi ini antara lain : serikat buruh, team
olah raga, perkumpulan agama, kesemian, dan sebagainya.
Jika ditinjau lebih jauh, biasanya
masing-masing kelompok mempunyai pelopor opini (opinion leader) yang dapat
mempengaruhi anggota-anggotanya dalam membeli sesuatu. Interaksi mereka sering
dilakukan secara individual (misalnya dengan bertatap muka), sehingga seseorang
akan mudah terpengaruh oleh orang lain untuk membeli sesuatu. Kadang-kadang,
nasihat orang lain tersebut lebih berpengaru dari pada iklan dimajalah, surat
kabar, televisi dan media yang lain. Selain itu norma kelompok dapat pula ikut
mempengaruhi masing-masing anggota kelompok.
Dalam hal ini, manajer pemasaran perlu
mengetahui siapa yang menjadi pelopor opini dari suatu kelompok bersangkutan.
Seorang pelopor opini dari suatu kelompok dapat menjadi pengikut opini (opinion
follower) dalam kelompok yang lain. Juga bila tidak terjadi interaksi langsung
antara kelompok referensi dengan individu, pemasaran perusahaan dapat
memanfaatkan kelompok referensi untuk mempengaruhi konsumen, misal : periklanan
dengan mempergunakan tokoh-tokoh olah raga terkenel, penyanyi terkenal, dan
sebagainya.
d.
Keluarga
Dalam
pasar konsumen, maka keluargalah yang banyak melakukan pembelian. Peranan
setiap anggota dalam membeli berbeda-beda menurut macam barang tertentu yang
dibelinya. Setiap anggota keluarga memiliki selera dan keinginan yang berbeda.
Anak-anak misalnya tidak selau menerima apa saja dari orang tua mereka, tetapi
menggnginkan juga sesuatu yang lain. Apalagi anak-anak yang suda besar,
keinginan mereka semakin besar. Namun demikian terdapat kebutuhan keluarga yang
digunakan oleh seluruh anggota keluarga, seperti mebel, televisi, almari es,
dan sebaginya. Sumber pengaruh pembelian juga berbeda, tergantung dari jenis
barang yang akan dibeli. Pembelian kue, kembang gula dan mainan dipengaruhi
anak-anak. Pembelian perabot rumah tangga dan alat-alat dapur dipengaruhi
istri, sedangkan dalam pembelian mobil atau alat-alat olah raga, pengaruh
suamilah yang paling besar.
Oleh
karena itu, manajer pemasaran perlu mengetahui sebenarnya siapa anggota
keluarga yang bertindak sebagai pengambil inisiatif, penentu, pembeli atau
siapa yang mempengaruhi suatu keputusan dalam membeli. Hal-hal tersebut dapat
dilakukan oleh orang-orang yang berbeda, atau dapat pula dilakukan oleh satu
atau beberapa orang. Suatu saat seorang anggota keluarga dapat berfungsi
sebagai pengambil keputusan, tetapi pada saat yang berlainan ia dapat berbuat
sebagai pembelinya. Sering dijumpai bahwa keputusan utuk membeli dibuat
bersama-sama antara suami dan istri, kadang-kadang anak juga termasu, terutama
untuk membeli kebuthan seluruh keluarga.
Diantara
anggota-anggota keluarga, ibu rumah tangga adalah pembeli utama bagi keluarga.
Biasanya ibu rumah tangga yang memegang uang dan mengatur pengeluaran, ia
merupakan agen pembelian. Ia tidak hanya menentukan dan membeli barang-barang
yang dibutuhkan keluarga sehari-hari, tetapi juga barang-barang yang
dibutuhkan suami dan anak-anak. Tetapi
wewengan memutuskan pembelian antara suami dan istri tergantung dari tipe
keluarga, yang pada umumnya dapat dibedakan dalam 4 (empat) tipe keluarga yaitu
:
1. Otonomi
(autonomic); dimana jumlah keputusan yang diambil oleh suami dan istri
masing-masing sama banyaknya.
2. Dominasi
suami (husband dominant); sebagian besar dari pembelian untuk rumah tangga
dipuruskan oleh suami. Hal ini dapat dibedakan lagi dalam mana suami
benar-benar berkuasa penuh, dan istri tergantung dari suami (ibsenion), serta
suami seakan-akan berkuasa tetapi sebenarnya terganntung dari istri
(majikan-pelayan), disini istri bersikap mengabdi tetapi sebenarnya dialah yang
menjadi soko guru rumah tangga.
3. Dominasi
istri (wife dominant); sebagian besar pembelian untuk rumah tangga diputuskan
oleh istri. Hal ini dibedakan pula dalam dua hal, yaitu dimana suami ditekan
oleh istri (thurberesque), dan istri berkuasa, sedang suami tergantung pada
istri (ibu-anak).
4. Syncratic;
sebagian besar keputusan membeli dilakukan bersama-sama.
Dalam
tiap tipe tersebut diatas akan terdapat pola perilaku pembelian yang berbeda
satu sama lain.
Dibanding dengan kelompok-kelompok
lain dengan mana seseorang berhubungan langsung, keluarga memainkan peranan
terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku manusia. Oleh karena
itu manajer pemasaran berkepentingan mempelajari perilaku anggota keluarga,
terutama dalam melakukan pembelian
barang-barang dan jasa-jasa untuk memenuhi kebutuhannya.
SUMBER :
Basu
Swastha Dharmmesta, Prof. Dr. M.B.A - T. Hani
Handoko Dr. M.B.A., manajemen pemasaran analisis perilaku konsumen, 2008,
BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta
Ristiyanti
Prasetijo, Dra. MBA – Jhon J.O.I Ihwalauw, Prof. Ph.D.,
perilaku konsumen, 2004, penerbit andi, Yogyakarta
Kotler,
Philip, Manajemen Pemasaran Edisi
Millenium, 2000, Prenhallindo, Jakarta
Komentar
Posting Komentar